Analisis Epistemologi Tanda terhadap Ruang Publik Baru

Ruang Publik Baru akan menjadikan fokus menurun, respon melambat dan perhatian serta pola pikir manusia jadi kurang stabil.
semua orang berselancar dalam ruang publik baru untuk melakukan berbagai aktivitas.
semua orang berselancar dalam ruang publik baru untuk melakukan berbagai aktivitas.

Hadirnya ruang publik baru atau cyberspace dewasa ini memberikan kesenangan tersendiri bagi masyarakatnya. Fitur-fitur (fasilitas) yang ada, membuat manusia nyaman untuk hidup bersosial dalam ruang tersebut.

kehadirannya mampu mensulap wujud segala sesuatu yang nyata hingga nampak bias. Pun dengan interaksi sosial yang kini terjadi.

Ruang tersebut akan menjadikan fokus menurun, respon melambat dan perhatian serta pola pikir manusia jadi kurang stabil.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Lantas, bagaimana caranya kita mampu membedakan sesuatu yang bias dengan yang nyata.?

Arus Ruang Publik Baru dan Masyarakat Konsumsi

Pola kehidupan sosial masyarakat Indonesia pada tahun 2022 lebih banyak berinteraksi dalam ruang publik baru. Tercatat dalam tinewss.com, sebanyak 204,7 juta adalah masyarakat yang ada di dalamnya. Penetrasinya sampai mencapai 73,7% dari total populasi awal pada tahun 2022.

Ruang kosong Manusia diisi oleh fasilitas-fasilitas yang ada dalam ruang tersebut. Untuk sekedar mengisi ruang kosong dan penghilang kepenatan, manusia disuguhkan fasilitas hiburan supaya mendapatkan kebahagiaannya.

Manusia bisa hidup dalam dunia keseolah-olahan dengan berbagai fasilitas yang disuguhkan. Seolah-olah sedang membedah buku padahal sedang arisan buku dan bergosip.

Fenomena keseolah-olahan telah merasuki pikiran manusia dan merubah prilakunya. Manusia menjadi terbiasa memindah-mindahkan jari untuk menggeser layar.

Hal tersebut menjadi salah satu landasan timbulnya pikiran dan prilaku manusia menjadi bias. Ditambah, support algoritma membuat manusia tergabung dalam masyarakat konsumerisme.

Artinya dukungan untuk terus mengkonsumsi, bukan hanya datang dari dalam diri manusia tetapi melibatkan luar dirinya.

Masyarakat konsumerisme adalah paham yang melakukan konsumsi segala sesuatu secara berlebihan, tanpa sadar dan berkelanjutan. Wajar saja, ketika banyak manusia mengkhayalkan segala sesuatu untuk dimiliki.

Analisis Epistemologi Tanda terhadap Arus Ruang Publik Baru

Pada pembahasan kali ini, saya akan menganalisis ruang publik baru menggunakan epistemologi tanda perspektif Murtadha Muthahari.

Tanda diketahui sebagai pengetahuan yang didapatkan oleh manusia di alam melalui proses indrawi. Proses tersebut secara otomatis akan menghasilkan makna dalam benak manusia. Pemaknaan itu dilakukan oleh rasionya.

Rasio seperti halnya cermin, yakni mampu memantulkan segala hal yang ditangkap oleh indra di alam.

Perlu diketahui, rasio memiliki fungsi untuk mengimajinasikan, mengetahui makna yang tersirat bahkan memiliki pengetahuan yang luas dan tak terbatas.

Baca Juga: Citayam Fashion Week dan Iblis Konsumerisme

Selain itu, rasio memiliki fungsi untuk memperluas dan memperdalam objek untuk membaca kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Selayaknya cermin, maka kebersihan rasio harus dijaga agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik untuk melihat sesuatu hal sebagaimana adanya.

Cermin bisa dikotori oleh debu, sedangkan rasio bisa dikotori oleh rasa iri, dengki, benci ataupun kegundahan.

Pun dengan melihat fenomena dalam cyberspace, jika rasionya kotor maka seseorang tidak akan mampu untuk melihat kebiasan buruknya.

Hal tersebut telah mengantarkan kita bahwa fenomena keseolah-olahan atau kebiasan dalam ruang publik baru hanya bisa dilihat melalui rasio yang tidak terkotori.