Citayam Fashion Week dan Iblis Konsumerisme

Cucu iblis telah berubah rupa menjadi wujud konsumerisme. Ia menggiring manusia melalui simbol-simbol dalam media sosial.

Akhir-akhir ini Sudirman, Citayam, Bojonggede, Depok (SCBD) dipadati oleh berbagai kalangan, dari mulai kalangan anak-anak sampai lanjut usia.

Nampak sama rata sama rasa, tak ada aturan khusus, siapapun bisa menjadi model dan bisa melewati zebra cross yang disulap menjadi catwalk.

Para model jalanan berbondong-bondong memamerkan busana yang dikenakan. Mereka lenggak lenggok bak model dadakan sehingga menjadi tontonan yang menarik bagi warga yang datang.

Tak sedikit warga yang mengabadikan momen tersebut dengan menggunakan ponselnya. Mereka bersuka ria memposting potonya sehingga muncul tagar #citayamfashionweek.

Dalam tulisan kali ini, saya akan menggambarkan bagaimana cara iblis merasuki pemikiran manusia.

Epistemologi Iblis

Bermilyar-milyar tahun yang lalu, Allah SWT menciptakan Adam bukan untuk menjadi pesaing iblis.

Berbeda dengan Iblis yang diciptakan dari api, nabi Adam diciptakan oleh Allah SWT dari tanah. Tanah dikira iblis hanya berada di bawah yang bisa diinjak-injak oleh siapapun.

Iblis beranggapan api lebih berkuasa dibanding dengan tanah. Api bisa membakar segala hal, tetapi tanah membutuhkan elemen lain untuk menumbuhkan tumbuhan.

Sehingga, sedikitpun iblis enggan diperintah oleh Allah SWT untuk bersujud kepada nabi Adam. Sebab, iblis (api) lebih mulia daripada adam (tanah).

Penolakan iblis sangatlah wajar, sebab iblis melihat sesuatu hal (tanah) yang tampak luaran saja. Ia tidak melihat dalam diri Adam yang telah ditiupkan ruh Allah SWT.

Iblis telah menjadi pelopor epistemologi empiris. Ia telah merenggut indra terdalam manusia. Hal ini membuat manusia menyukai hal yang nampak atau kasatmata saja.

Konsumerisme dalam Fenomena Citayam Fashion Week

Cucu iblis telah berubah rupa menjadi wujud konsumerisme. Ia menggiring manusia melalui simbol-simbol dalam media sosial. Oleh karenanya, manusia tergoda oleh tipu daya iblis agar menggunakan epistemologi empiris.

Manusia dituntun oleh iblis untuk berbelanja ke pasar online. Konsekuensinya, makanan yang akan ia beli menjadi makanan tak kasatrasa. Sehingga, rasa kecewa terkadang menyerang manusia karena pembeliannya tak sesuai rencana.

Epistemologi iblis memiliki kaitan erat dengan pendapat Jean P. Baudrillard. Ia mengatakan, di zaman postmodern, kini yang nyata dirubah menjadi simulasi yang tidak mengenal batas wilayah bahkan substansi.

Perlu disadari, kita telah dikecoh dengan berbagai hal yang nampak dalam media saja tanpa tau asal atau kenyataanya.

Baca Juga: Transformasi Fungsi Kosan

Kita dikecoh oleh ramainya perbincangan Citayam Fashion Week tanpa mempertimbangkan dampak mengkonsumsi informasinya.

Kita dimanjakan oleh algoritma iblis (media) untuk melihat informasi tentang keseruan Citayam Fashion Week secara terus menerus.

Fenomena Citayam Fashion Week membimbing para penikmat informasinya untuk menjadi seorang model jalanan.

Tak sedikit, orang menjadi berbondong-bondong membeli pakaian unik secara terus menerus agar terlihat menarik penonton, baik secara langsung atau tidak langsung (online).

Oleh: Siti Aulasari Husnawati (Aul)