Dualitas Agama: Kesenjangan antara KeImanan Pemuda dan Amalnya

Sepanjang 25 Januari sampai 19 Febuari 2022, Hanief menggelar pesantren kilat filsafat Islam. Selama itu, para santri diperkenalkan berbagai corak berpikir manusia (epistemologi), hakikat manusia (fitrah) dan pendidikan perspektif kosmologi. Tujuannya adalah agar tradisi intelektual bisa hidup di kalangan pemuda.

Sulit untuk dipungkiri bahwa pemuda adalah harapan dari suatu negara. Semua mengakui hal itu, dari tokoh nasional, pemuka agama sampai leluhur dari setiap bangsa. Namun kenyataannya, pemuda telah menjelma menjadi generasi yang tidak berdaya menghadapi arus zaman.

Saat ini, zaman tidak sebegitu menyeramkan dibandingkan dengan era primitif. Asumsi-asumsi liar tentang roh alam era primitif tidak begitu membuat umat manusia ketakutan. Hal ini karena hampir seluruh pertanyaan mengenai sebab kejadian telah terjawab oleh sains.

Sebagaimana Comte mengatakan, abad modern adalah abad sains. Persoalan mistik dan filsafat telah ditinggalkan oleh umat manusia. Apabila bertolak belakang dengan sains. Padahal ada wilayah diluar ruang lingkup sains.

Pemuda Merespon Perkembangan Zaman

Sains membawa berbagai kemudahan bagi para pemuda. Sehingga mereka terhindar dari kesulitan yang dialami leluhurnya. Saat menempuh perjalanan puluhan kilo meter, para pemuda tidak harus menghabiskan waktu berhari-hari. Cukup sekian menit sudah bisa sampai di tempat tujuan.

Para pemuda di Ciamis, tidak perlu menunggu waktu berminggu-minggu untuk berkomunikasi dengan kerabat yang ada di Sukabumi. Dengan hitungan detik, pesan sudah terkirim.

Tidak ada lagi alasan untuk mengatakan tidak bisa untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Karena tidak lagi ditemukan kesulitan-kesulitan masa lalu. Dalam belajar dan mencari guru. Kita hanya memerlukan akses internet untuk menemukan guru piawai yang ekspert.

Tidak lagi ada kendala untuk membeli berbagai fasilitas. Hanya dengan satu klik sambil rebahan, kita akan disambut oleh pasar yang begitu canggih dan tentunya tidak berbau busuk ikan asin atau keringat manusia.

Terlalu lama bagi kita untuk menunggu setiap pagi karena ingin membaca informasi dalam selembaran kertas yang akan menjadi bungkus gorengan. Tidak perlu menunggu, sekarang kita akan dijemput oleh informasi setiap detiknya.

Kita tidak perlu khawatir jika tidak mempunyai uang, untuk sekedar refreshing kita bisa menyaksikan orang goyang, sekaligus sama-sama ikut goyang bermodalkan kuota gratisan. Apalagi yang akan pemuda jadikan alasan untuk tidak maju.

Pemuda dalam Sejarah Indonesia

Sejarah telah mengungkap perjuangan pemuda Indonesia pada abad 20. Memang perjuangannya patut diapresiasi. Bahkan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno telah mengatakan, “Beri aku sepuluh pemuda maka akan aku guncangkan dunia.”

Ungkapan Bung Karno menunjukan bahwa pemuda telah dinobatkan sebagai promotor perkembangan zaman. Pemuda telah mampu meruntuhkan rezim kedzaliman dalam setiap fase sejarahnya.

Sejatinya, dalam diri pemuda terdapat darah revolusi yang mengalir berdampingan dengan rintihan jutaan rakyat yang tertindas dan menderita. Dengan demikian, pemuda merupakan representasi dari rakyat yang ditindas dengan semena-mena oleh rezim penguasa.

Di tengah rezim penjajah Hindia-Belanda pada tanggal 20 Mei 1908 di Aula Stovia, dengan penuh semangat, pemuda telah merapatkan barisan untuk membuat organisasi yang dinamakan “Boedi Utomo.”

Kepedihan dimasa penjajahan telah membentuk kesadaran kolektif pemuda untuk membela tanah air. Kesadaran tersebut telah melahirkan berbagai gerakan pemuda sampai mencapai klimaksnya pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.”

Belenggu kebodohan penjajah terhadap masyarakat telah mendapat perlawanan dari kaum pemuda untuk memerdekakan negaranya. Sehingga sampai mencapai puncak kembali pada proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Peran rakyat, pemuda dan mahasiswa telah terjadi restrukturisasi pasca kemerdekaan. Al-hasil, terlihat dengan gerakan pemuda yang tidak terlalu fundamen sebelum diturunkannya rezim orde lama pada tahun 1966.

Penurunan tersebut dengan dalih bahwa penguasa telah mengalami pemerintahan diktator karena dituding telah terpengaruh oleh ideologi komunis. Pemuda yang menjelma sebagai mahasiswa membentuk organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) untuk menurunkan rezim tersebut.

Bak mendapatkan batangan emas yang berceceran, keruntuhan rezim orde lama lantas membuat peran pemuda dan mahasiswa mendapatkan kedudukan strategis diberbagai lembaga pemerintahan yang dimotori oleh petinggi militer.

Penyesalan datang setelah mereka mengetahui orde baru ini juga mengusung sistem pemerintahan diktator. Rezim orde baru telah membungkam pemuda dan mahasiswa dalam berekspresi di luar kampus melalui program NKK-BKK. Pembatasan media masa oleh pemerintah membuat aspirasi mahasiswa membeku. Saat itu demokrasi telah dilucuti.

Kesadaran kolektif muncul kembali setelah mendapatkan kesengsaraan pada rezim orde baru. Berbagai elemen masyarakat termasuk pemuda sama-sama berjuang dalam meruntuhkan rezim pada bulan Mei tahun 1998, yang akrab disebut era “Reformasi.”

Alih-alih kemajuan bangsa, pasca-reformasi dianggap sebagai titik balik kemunduran bangsa. Idealnya, reformasi menjadi titik balik kemajuan yang mengharuskan pemuda aktif dalam berbagai _leading sector_.

Reformasi telah menjadi saksi bisu terjadinya penghancuran idealisme mahasiswa. Perjuangan meruntuhkan orde baru hanya menjadi euforia akibat kediktatoran pemerintahan selama 32 tahun berkuasa.

Seolah berbagai kebingungan telah menimpa pemuda yang mengalami ketidaktahuan bagaimana caranya membela rakyat. Iming-iming kepentingan kekuasaan dalam parlemen menjadi alasan kuat yang telah menghantui pemuda Indonesia.

Perjuangan Pemuda pada Revolusi Islam Iran

Kediktatoran pemerintahan tidak terjadi di Indonesia saja. Namun di negara Timur Tengah, yaitu Iran mengalami hal yang sama. Jika membicarakan Iran maka tidak asyik ketika tidak membicarakan “Revolusi Islam Iran.”

Revolusi Iran telah melahirkan potret pemuda yang mendapat andil terdepan dalam gerakan revolusi tersebut. Pemuda telah memberikan sumbangsih pemikiran dan gerakan yang menguntungkan rasionalitas dan agama.

Seperti yang telah dikatakan Imam Khomeini ra (salah satu tokoh revolusi), dengan kekuatan iman pemuda, telah membawa kemenangan bagi negara Iran dari rezim penguasa.

Tidak berbeda saat rezim orde baru di Indonesia, Shah Reza Pahlevi telah mencabut kebebasan pemuda dalam berbagai aktivitas. Seperti aktivitas sosial, agama, politik budaya dan pendidikan. Rezim ini telah membentuk kesadaran pemuda untuk tidak ikut andil dalam memperjuangkan masa depan negara.

Imam Khomeini dan para tokoh revolusioner sejak dulu telah menginisiasi cara untuk menghancurkan rezim penguasa yang diktator dan menindas. Langkah strategis yang dilakukan adalah dengan cara mencerdaskan pemuda dengan pengetahuan yang diberikan melalui gerakan arus bawah.

Adanya relevansi antara gaungan revolusi dengan cita-cita pemuda (independensi, karakteristik Islami, negasi terhadap hegemoni dan anti penindasan) menjadikan gerakan pemuda lebih kuat dan efektif. Terbukti sejak pertama kalinya terjadi revolusi Islam Iran tahun 1978.

Para pemuda Iran melakukan berbagai gerakan dari berbagai pelosok desa dan kota. Selama gerakan tersebut, pemuda telah mendapatkan kembali identitas agama dan nasionalismenya dalam upaya kemajuan negaranya.

Potret sejarah Iran selalu mengenang pemuda Iran yang terbilang progresif. Dibuktikan dengan keberaniannya melakukan perang jalanan dan perang militer selama 8 tahun “perang pertahanan suci.”

Gerakan perlawanan yang dilakukan oleh pemuda Iran melalui mesjid-mesjid, kampus dan ruang-ruang ilmiah. Komando perang dalam mempertahankan negaranya, dipegang oleh pemuda yang berasal dari Hauzah dan Universitas.

Pemuda Iran telah menjelma sebagai Singa di siang hari dan ahli ibadah di malam hari. Penjelmaan tersebut dilakukan dengan proses perkaderan yang panjang dengan nilai-nilai keagamaan/ ibadah yang merasukinya. Di sanalah awal mula rakyat Iran telah membuka pintu utama revolusi.

Pemuda Iran telah mememberikan kemenangan bagi rakyat Iran melalui ilmu pengetahuan dan agama kemudian keyakinan dan progresifitas tindakannya.

Peran Falsafatuna dalam Membentuk Pemuda

Dengan hadirnya kemudahan pada abad 21, dimungkinkan adanya kesadaran baru yang diciptakan ke dalam diri pemuda i-generation (lebih akrab dikenal generasi Z). Sehingga dapat menyebabkan mereka termakan rayuan ke-praktis-an untuk mendapatkan sesuatu hal.

Era digital telah membuat manusia bercorak pemikiran satu, yaitu ideologi liberal-kapitalisme, bergaya hidup satu, yaitu konsumerisme dan berorientasi satu, yaitu kebebasan.

Demikian pula iming-iming ke-praktis-an dalam berpolitik telah termakan oleh pemuda untuk mendapatkan sesuatu yang kasat mata secara instan. Sehingga, kesadaran pemuda telah diedit sedemikian rupa untuk melupakan perannya sebagai pemuda.

Selama 1 dasawarsa ini telah terlihat bahwa Ilmu pengetahuan memang telah mengantarkan pemuda terhadap perkembangan zaman sampai era sains sekarang ini, sejak dari zaman primitif dan filosofis. Bukan hanya terhadap perkembangan zaman, ilmu pengetahuan memiliki andil penuh terhadap pemahaman setiap Pemuda terhadap agamanya.

Jika menghadirkan komparasi dari Iran yang sama-sama beragama Islam, telah menghadirkan pemahaman terhadap kita dalam proses pencapaian tujuan, pemuda Iran telah membuktikan bahwa agama memiliki andil untuk dijadikan sebagai jalan menuju puncak revolusi.

Pemuda Indonesia yang mayoritasnya beragama, lantas kenapa masih mudah terpengaruhi sisa-sisa pola pikir rezim orde baru dan orde lama yang dibuai kekuasan? Kenapa juga pada abad 21 pemuda cenderung kebingungan arah? Jauh dari itu, kenapa ada pemuda yang masih apatis terhadap cita-cita kemanusiaan?

Gerakan intelektual sebagai pondasi perubahan telah dipahami dewasa ini oleh pemuda Indonesia sebagai gerakan yang utopis dengan menginginkan kesejahteraan dan kemandirian bersama. Karena kenyataannya kemiskinan selalu diperihara dan kebodohan telah meraja.

Keruwetan dalam beragama telah membuat pemuda meninggalkan agama dalam pencapaian tujuannya. Bagaimana tidak, agama telah dipahami sebagai benteng pembatas dalam proses pencapaian tujuannya. Keterlibatan agama dalam berbagai sektor kehidupan manusia dianggap sebagai penghalang terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Padahal agama sangat diperlukan seiring perkembangan ilmu pengetahuan untuk membendung hawa nafsu manusia yang dipahami seperti sifat-sifat yang terkandung dalam diri hewan. Agama menolak segala dominasi merugikan.

Ilmu pengetahuan dan agama yang diketahui dengan benar, akan mengantarkan manusia pada progresifitas dalam merespon perkembangan zaman. Ilmu pengetahuan dan agama selayaknya dijadikan landasan sebagai muqodimah gerakan sosial pemuda.

Idealnya, pemuda dapat mengetahui agama dengan ilmu pengetahuan yang benar. Dan juga sebaliknya, ilmu pengetahuan harus didampingi oleh agama. Sehingga akan terjadi hubungan yang harmonis dalam membentuk keimanan dan amaliyah pemuda.

Oleh karena itu, kita dapat mengimani agama tidak dengan keimanan pincang yang dapat menghambat progresifitasnya dalam melakukan aktivitas keseharian.

Setidaknya ada tiga hal penting yang harus kita garis bawahi terhadap pembahasan kali ini. Pertama, adanya ajaran dengan benar. Kedua, pemahaman yang benar terhadap ajaran tersebut. Ketiga, Keimanan terhadap ajarannya.

Langkah awal yang kami ambil adalah menghidupkan tradisi intelektual Islam, untuk kemudian menetapkan arah tujuan dan metode tindakan. Setelah itu barulah mewujudkan cita-cita kemanusiaan secara kolektif.