Gus Dur, Toleransi, dan Kelakar Pengeras Suara Masjid

Mathilde Aubier Ilustrator
Sumber : Mathilde Aubier Ilustrator

“Padahal Gus Dur melalui humornya tentang pengeras masjid, ingin mengatakan ada yang lebih substantif dan prinsipil”.

Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid selalu memiliki humor yang cenderung kontroversial. Bukan hanya kebijakannya saja yang membuat kita mengernyitkan dahi.

Humor ala tradisi pesantren dari seorang Cendekiawan cum Ulama tersebut juga tak jarang menyisakan pertanyaan.

Ada ihwal yang relevan ketika menyimak salah satu humornya dengan isu yang kini tengah berkembang di masyarakat muslim tanah air. Di tengah gencar-gencarnya kabar tentang Rusia-Ukraina, diskriminasi muslim India, sampai kabar Wadas yang tak kunjung menemukan titik temu.

Pemerintah melalui Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sempat-sempatnya memikirkan dan harus turun tangan mengatur penggunaan pengeras suara atau toa di masjid dan mushala.

Aturan ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushala.

Mengapa relevan? Gus Dur sempat berkelakar mengenai persoalan toa masjid ini.

Dalam sebuah pertemuan santai bersama beberapa tokoh lintas agama, Gus Dur menyaksikan para tokoh tersebut berdebat mengenai agama mana yang paling dekat dengan Tuhan.

Mereka berasal dari agama Islam, Kristen, dan Budha. Dilansir laman NU Online yang mengutip buku ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’, seperti berikut ini dialog mereka :

“Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan. Karena setiap dari kita ketika beribadah memanggil Tuhan dengan ucapan “Om”,” celetuk seorang Biksu Buddha.

“Nah, kalian tahu sendiri, kan, seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?” sambung dia.

Seolah tak ingin kalah debat dengan Biksu, seorang Pendeta dari agama Kristen bergegas menyangkal dan mengutarakan pendapatnya.

“Ya tidak bisa, sudah jelas agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan”, seru pendeta tersebut.

“Lah kok bisa?,” si Biksu itu kaget dan buru-buru menyela.

“Kenapa tidak, agama anda kalau memanggil Tuhan hanya mengucapkan “Om”, kalau di agama saya memanggil Tuhan itu “bapak”.

Nah, kalian tahu sendiri, kan, bagaimana kedekatan seorang bapak kepada anaknya, daripada kedekatan paman kepada keponakannya. Sudah pasti agama kamilah yang paling dekat”, terang si pendeta percaya diri.

Menyaksikan perdebatan tersebut, Gus Dur hanya bisa tertawa lebar tanpa mengeluarkan pendapat apapun terkait agamanya.

“Lah sampean kok malah tertawa terus?” tanya Pendeta itu menanti pendapat Gus Dur soal Islam.

Setelah itu, Biksu Buddha pun melontarkan pertanyaan.

“Apakah anda merasa bahwa agama anda lebih dekat dengan Tuhan?”, serobot si Biksu kepada Gus Dur yang masih tertawa terpingkal-pingkal.

Akhirnya Gus Dur berkata sambil tertawa.

“Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan.” jawab Gus Dur dengan mimik wajah serius.

“Lah kok bisa ?” tanya si pendeta dan biksu semakin penasaran.

“Lah gimana tidak, wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa,” kelakar Gus Dur.

Gus Dur dan Humor Pengeras Suara Masjid

Sebelum aturan mengenai toa atau pengeras suara masjid ramai diperbincangkan, jauh-jauh hari Gus Dur menyinggung fenomena budaya ini melalui essainya yang terbit di TEMPO, pada 20 Februari 1982.

“… tetapi ‘illat tidak dapat dipukul rata. Harus ada penjagaan untuk mereka yang tidak terkena kewajiban: orang jompo yang memerlukan kepulasan tidur, jangan sampai tersentak. Wanita yang haid jelas tidak terkena wajib sembahyang. Tetapi mengapa mereka harus diganggu? Juga anak-anak yang belum akil baligh (atau tamyiz, sekitar umur tujuh delapan tahunan, menurut sebagian ahli fiqih mazhab Syafi’i)”.

“… tidak bergunalah rasanya memperpanjang illustrasi seperti itu: akal sehat cukup sebagai landasan peninjauan kembali “kebijaksanaan” suara lantang di tengah malam — apalagi kalau didahului tarhim dan bacaan Al-Qur’an yang berkepanjangan. Apalagi, kalau teknologi seruan bersuara lantang di alam buta itu hanya menggunakan kaset! Sedang pengurus masjidnya sendiri tenteram tidur di rumah”.

Jika dimaknai, sisi lain dari budaya atau upacara keagamaan: berjenis-jenis seruan untuk beribadah, dilontarkan dari menara-menara masjid dan atap surau, sebagai bagian integral dari unsur keagamaan.

Namun, fenomena ini karena berdasar konsekuensi dari nuansa masyarakat mayoritas, terkadang menyisakan keresahan yang terpendam bagi masyarakat lintas iman lain.

Tahun 2018, kita digegerkan oleh Meiliana yang memprotes pengeras suara masjid. Ia sampai harus dibui 18 bulan karena dituduh sebagai penista agama.

Selanjutnya warga non-Muslim di Tolikara, Papua, yang merasa keberatan dengan penggunaan pengeras suara saat warga muslim menggelar salat Idul Fitri di markas Komando Rayon Militer Karubaga.

Protes ini berujung penyerbuan terhadap warga Muslim yang sedang melakukan salat Idul Fitri dan pembakaran sejumlah bangunan, termasuk mushala, bisa cek disini https://nasional.tempo.co/read/1119840/selain-meiliana-ini-dua-kasus-lain-protes-pengeras-suara-masjid/full&view=ok.

Bisa jadi karena Gus Dur merupakan seseorang yang menganut Pluralisme, celah budaya ini mendapat sorotan karena masuk dalam spektrum toleransi dan keharmonisan masyarakat lintas keyakinan.

Toleransi antar umat beragama di Indonesia masih banyak catatan. Relasi kedua sisi yang berbeda masih sangat tajam, keras dan upaya untuk mencapai moderasi beragama memiliki jalan amat panjang.

Keluhan atau bahkan protes saja bisa menyulut reaksi yang berlebihan. Apalagi aturan yang sudah dipadatkan tentang pembatasan pengeras suara masjid seperti di atas.

Entah apa yang akan dilakukan umat muslim di luar sana, karena melihat fase saat ini, reaksi yang timbul masih meliputi framing dan penggalangan opini publik menuju afirmasi bahwa keputusan pemerintah tidak “Islami“.

Memaknai peristiwa ini, seringkali kita terjebak dalam hal-ihwal pertarungan simbol, ritus keagamaan, atau jenis aksiden lain.

Padahal Gus Dur melalui humornya tentang pengeras masjid, ingin mengatakan ada yang lebih substantif dan prinsipil.

Yaitu penghayatan dari nilai Islam sendiri, artikulasi dari makna Rahmatan lil Alamin. Prinsip yang memberikan sebuah ketenangan, ketentraman, keharmonisan dalam bermasyarakat.

Lalu, bagaimana anda meninjau kembali sebuah “kebijaksanaan” yang dimaksud Gus Dur, tentunya dalam menyikapi aturan pembatasan pengeras suara atau toa masjid? Emosi anda melambung? atau anda justru lebih tertarik untuk merefleksikan kembali catatan toleransi kita?