Haluan Pemikiran Islam HMI

Memorian Pegiat Hanief di acara Contemporary Islamic Thought Academy

Beberapa minggu lalu, Ketua Bidang Pemberdayaan Umat (Kabid PU) HMI Cabang Ciamis menghubungi saya. Bidang PU meminta agar saya sebagai pegiat Hanief dapat bersedia menjadi pemantik pada kegiatan yang akan diselengaraan tanggal 12-14 Desember 2021. Tema yang diangkat pada kegiatan itu adalah Contemporary Islamic Thought Academy.

Anggota HMI Cabang Ciamis yang memenuhi syarat-syarat tertentu dapat mengikuti kegiatan ini. Katanya, Bidang PU sengaja mendesain kegiatan secara eksklusif agar peserta yang berpartisipasi pada kegiatan ini telah terkualifikasi.

Saya sangat senang diundang menjadi salah satu pemantik pada kegiatan itu, karena Fadlun Sangaji (Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Muthahhari Jogja) dan Fahmy Farid (Penulis Buku Ontosofi Ibn ‘Arabi) ada di deretan daftar pemantik. Saya bisa banyak belajar kepada kedua ekspert itu.

Iklim Pemikiran Islam di Ciamis

Saya membuka pertemuan dengan perkenalan dan menanyakan beberapa pertanyaan kepada peserta. Salah satu yang saya tanyakan adalah, dimana anda sering berdiskusi?, Kapan terakhir anda berdiskusi dan pemikiran siapa yang sedang anda pelajari?.

Pertanyaan ini saya rasa sangat penting untuk mengetahui bagaimana iklim pemikiran di Ciamis. Rata-rata teman-teman menjawab tempat berdiskusi adalah sekretariat. Dalam sepekan paling tidak, satu kali. Atau pernah mengikuti kajian pemikiran kiri yang sempat digelar teman-teman Unigal. Mengenai pemikiran tokoh, sempat membaca beberapa biografi tokoh. Itupun tidak terlalu dalam.

Kalau di sekretariat oerganisasi pergerakan jarang mendiskusikan tema-tema pemikiran, lantas apa yang sering dibicarakan para anggota HMI  saat di sekretariat?. Atau fungsi sekretariat telah mengalami pergeseran menjadi sekedar tempat tidur?.

Mengapa iklim kajian di Ciamis yang bertajuk pemikiran terlihat begitu sepi?. Kita sedang berbicara di tataran mahasiswa yang notabene menamai dirinya sebagai kaum terpelajar. Belum berbicara pada tataran lain. apa yang mereka obrolkan saat jajan di warung, beli kopi dan di kosan?.

Atau, ilmu tidak pantas berada di kos-kosan, di Cafetaria kampus, di lorong-lorong asrama. Apakah ilmu tidak lagi tinggal di sekretariat organisasi sekelas HMI?. Lalu dimana saat ini ilmu berdomisili?.

Mungkin hari ini ilmu tinggal di menara mesjid pondok pesantren atau di tower kampus. Sehingga tidak bisa diakses oleh sembarang orang. Para Dosen dan Pengajar sudah sangat sibuk menjaga ilmu, membuat mereka tidak memiliki waktu untuk menyebarkan ilmu ke ruang-ruang non akademis seperti warung kopi dan teras kosan.

Inilah salah satu alasan Hanief hadir. Ingin ikut menjadi bagian dalam menggiatkan iklim pemikiran di Ciamis. Hanief mempelajari ilmu dari menara masjid pesantren dan tower kampus untuk disajikan di kos-kosan, saung lesehan dan warung kopi. Para pegiat Hanief bertanggungjawab melakukan upaya-upaya kecil untuk menderaskan iklim keilmuan di kalangan mahasiswa. Masuk melalui organisasi mahasiswa, seperti HMI.

Melacak Makna Asal Islam

Cara kita berislam selama ini terlalu mengedepankan ke-aku-an. Tak jarang karena ke-aku-an terlalu depan, selanjutnya melahirkan konflik berkepanjangan. Terlihat dari cara kita mengakui Tuhan, Kitab dan Para Utusan, bahkan Surga.

Suatu kelompok mengatakan bahwa Allah Swt adalah Tuhan kelompoknya. Padahal Allah adalah Tuhan seluruh alam. Bukan hanya Tuhan milik agama tertentu atau madzhab tertentu. Begitupun dengan Al-Qur’an dan Muhammad Saw, selama ini diakui sebagai kitab kelompok tertentu dan Rasul sebagian agama. Padahal Al-Qur’an diwahyukan untuk menjadi rahmat seluruh alam. Muhammad Saw adalah nabi terakhir bagi seluruh manusia. Bukan nabi agama tertentu atau madzhab tertentu. halini berlakujuga dengan Surga yang hak huninya adalah untuk seluruh manusia yang menghendakinya. Tidak di monopoli oleh kelompok tertentu.

Islam dipahami sangat sempit, terbatas pada urusan Fikih, Tauhid, Qur’an-Hadist, Akidah-Akhlak dan SKI. Padahal itu bukan Islam melainkan mata pelajaran PAI. Fikih yang diakui pun hanya madzhab pemikiran tertentu saja, sedangkan yang lain tidak. Pokoknya yang sesuai Muhammad Saw dan Al-Qur’an adalah saya, orang lain tidak. sedemikian sempit.

Mari kita lacak, apa Islam sebenarnya?. Ditinjau dari sudut pandang kebahasaan. Islam berasal dari kata Aslama, Yuslimu Islaman, Fahuwa Muslimun. Bahasa tersebut keluar dari tsulasi majid warna awal bab awal yang memiliki makna menyelamatkan.

Dari redaksi kata fahuwa muslimun memberikan informasi kepada kita bahwa subjek penyelamat disebut Muslim. Kerja kemanusiaan seorang muslim adalah menyelamatkan. Namun, apa yang perlu diselamatkan? dan bagaimana cara menyelamatkannya?.

Baca Juga: Kolaborasi Epistemologi dan Jurumiyah Dalam Menguak Masa Depan Manusia

Kita ambil contoh, lalu lintas memiliki segenap sistem. Sistem tersebut bertujuan agar peradaban lalu lintas menjadi selamat. Kendaraan  disarankan agar melaju di lajur kiri. Apabila garis tengah putus-putus dipersilakan untuk mendahului kendaraan lain. Sedangkan apabila garis tengah tidak terputus artinya dilarang untuk mendahului kendaraan lain melewati garis tersebut.

Aturan lain adalah mengenai berbagai rambu dan lampu stopan. lampu hijau menandakan maju terus. Kuning, hati-hati dan merah harus berhenti. Seluruh pengemudi harus patuh kepada sistem lalu lintas agar dirinya selamat.

Demikian dengan kehidupan yang memiliki sistem. Apabila manusia ingin selamat, maka harus hidup sesuai sistem kehidupan. Dalam kata lain patuh menjalankan sistem tersebut.

Bukan hanya manusia, hewan dan tumbuhan, jin dan benda-benda langit, planet-planet dan segala unsur, harus patuh pada sistem kehidupan. Agar selamat. Kepatuhan para planet yang beredar pada porosnya, siang dan malam yang berganti secara patuh, unsur-unsur yang senantiasa berubah sesuai hukum kehidupan, membuat kita masih bisa menikmati kehidupan sampai saat ini.

Islam adalah tatanan semesta, sistem jagat raya, mekanisme kerja alam dan metode kehidupan. Islam tidak hanya di mesjid, melainkan di semesta. Yang berislam tidak hanya manusia melainkan seluruh makhluk. Apabila ingin selamat kita perlu bekerja sesuai sistem kerja alam.

Haluan Pemikiran Islam HMI

Di pasal 3 AD HMI sangat jelas bahwa azas organisasi ini adalah Islam. Islam dipilih oleh HMI sebagai sumber inspirasi, metodologi dan tujuan dalam setiap perjuangan yang dilakukan. Setiap kader HMI berusaha menginterpretasikan nilai Islam untuk menjadi sebuah pemahaman yang utuh. Kemudian nilai-nilai yang dipahami hendak diwujudkan dalam sebuah tatanan kehidupan.

Hal ini tercantum dalam Pasal 4 AD HMI, bahwa tujuan organisasi ini adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Swt.

HMI menobatkan dirinya sebagai ibu kandung yang akan melahirkan para pembina umat (pasal6 AD) yang memiliki kapasitas akademis, pencipta, pengabdi, memegang teguh nilai Islam dan memiliki kesadaran untuk mewujudkan masyarakat adil makmur. Masyarakat yang hidup sesuai dengan sistem jagat raya. Patuh terhadap mekanisme kerja alam. Sehingga Allah Ridha kepada mereka.

Dalam benak kader HMI tidak ada tujuan lain selain Ridha Allah. Implementasi dari harapan tersebut membuat kader HMI berjuang (pasal 9 AD) untuk senantiasa melakukan kadesisasi (pasal 8 AD), menularkan cita-cita dan harapan tersebut kepada orang lain. Kader HMI tidak mudah tergiur oleh jabatan, uang, perempuan. Kader HMI tak gentar apabila menghadapi ancaman (pasal 7 AD). Karena dalam dirinya sudah terpatri semangat juang yang dimiliki Muhammad Saw.

Bagi HMI Islam haruslah termanifestasi dalam tatanan masyarakat. Islam harus terwujud dalam politik, dalam ekonomi, perkembangan teknologi dan kebudayaan umat (bab 5 AD). Islam tidak hanya di masjid dan hanya ada saat bulan Ramadhan saja. Melainkan di setiap saat, setiap tempat dan di setiap aktivitas.

HMI tidak terpaku oleh madzhab Islam tertentu ataupun organisasi Islam tertentu. HMI memegang teguh Islam Universal yang rahmatan lil ‘alamin. Selama nilai itu ada di madzhab tertentu atau organisasi tertentu, maka kader HMI ada di situ. Kader HMI melebur di setiap kehidupan masyarakat, merangkul umat dan mengungkapkan pertemuan-pertemuan antar perbedaan.

Kader HMI mewujudkan perjuangannya melalui bisnis, masuk pemerintahan, menjadi guru, aktivis sosial dan pekerja harian lepas atau teman orang-orang miskin dan fuqoro. Karena Kader HMI meyakini semua itu adalah jalan yang mereka tempuh untuk meletakan nilai Islam hingga sampai pada tujuan akhir yaitu Ridha Allah Swt.