Konflik Rusia vs Ukraina, Apakah PD III Sudah Di Depan Mata?

Konflik Rusia Ukraina
Ilustrasi Gambar

Sebelum seluruh dunia di gegerkan dengan konflik Rusia vs Ukraina, kita terlebih dahulu dibuat tercengang oleh perlawanan yang dilakukan Taliban kepada militer Amerika. Tahun 2021 menjadi bukti sejarah yang mengisahkan tentara Amerika yang dipaksa pulang kampung oleh Taliban setelah melakukan penetrasi kepada Afganistan selama 20 tahun. Padahal dunia menyaksikan bahwa tentara Amerika memang unggul telak dari Taliban.

Kejadian ini diawali sejak 9/11, 2001.  Tahun ini merupakan serangan terbesar yang pernah dialami Amerika. Serangan tersebut bukan hanya menghancurkan Twin Tower, tetapi juga menghancurkan sebagian dari Gedung Pertahanan Pentagon.

Setelah kejadian itu, Amerika segera melakukan perlawanan dengan mencari Osama bin Laden, sekaligus menaklukan Afganistan yang dituduh sebagai dalang dari aksi Nine One One. Sejak saat itu Amerika menduduki Afganistan dan membentuk pemerintahan boneka.

Kekuatan Rusia Lebih Unggul Dibanding Ukraina

Walaupun Amerika memenangkan pertempuran, namun selanjutnya sejarah menunjukan bahwa Amerika mengalami kekalahan dalam peperangan. Hal ini karena rakyat Afganistan tidak henti-hentinya melakukan perlawanan. Rakyat Afganistan tidak pernah mencintai pemimpin boneka yang diciptakan Amerika. Rakyat Afganistan pun mengatakan bahwa Amerika bukanlah pembebas, melainkan merupakan musuh besar.

Hal tersebut sangat membuat Amerika terpukul karena mereka telah mengorbankan segalanya untuk menguasai Afganistan. Sebanyak 2.400 tentara Amerika telah tewas di sana dan sebanyak 20.000 tentaranya terluka. Biaya yang dihabiskan selama melakukan ekspansi adalah sebesar 2,461 USD. Tetapi, akhirnya Afganistan kembali di kuasai oleh Taliban yang sejak dulu dinobatkan sebagai musuh bebuyutan oleh Amerika.

Pada konflik Rusia vs Ukraina pun kita menyaksikan betapa kekuatan Rusia sangat jauh di atas Ukraina. Rusia bisa dengan mudah menjadi pemenang dalam pertempuran tersebut, seperti halnya Amerika bisa menaklukan Afganistan. Hal ini karena kekuatan militer yang tidak seimbang.

Mari kita lihat, dana pertahanan yang dimiliki Rusia lebih banyak 10 kali lipat dibandingkan dana yang dimiliki Ukraina. Rusia memiliki 45,8 Billion USD, sedangkan Ukraina hanya 4,7 Billion USD. Selain itu Rusia memiliki tentara sebanyak 900 ribu orang, sedangkan Ukraina hanya memiliki 196 ribu saja. Artinya, Rusia memiliki 5 kali lipat lebih banyak tentara dibanding Ukraina.

Dari kendaraan perang pun Rusia jauh lebih unggul dari Ukraina. Kendaraan lapis baja yang dimiliki Rusia sebanyak 15.897 buah. sedangkan Ukraina hanya memiliki kendaraan sebanyak 3.309 saja.

Apakah PD III akan terjadi?

Dilihat dari rasio kekuatan yang dimiliki, Rusia jauh lebih kuat. Maka konflik Rusia vs Ukraina, akan dimenangkan oleh Rusia hanya dengan menunggu waktu. Namun, apabila terlalu gegabah, selanjutnya sejarah akan menunjukan bahwa Rusia akan mengalami kekalahan dalam peperangan sebagaimana Amerika yang dikalahkan oleh Afganistan.

Rusia Winning the Battle but Lossing the War. Rusia akan menang dalam pertempuran. Namun akan kalah dalam peperangan”.

Inilah yang menjadi alasan Rusia akan dikalahkan. Pertama, Ukraina sudah merdeka selama 31 tahun sejak 1991. Setelah melepaskan diri dari Uni Soviet, Ukraina sudah memiliki imajinasi sendiri untuk mengarahkan negaranya dan sikap rakyat Ukraina terhadap penjajah akan sangat negatif.

Kedua, penduduk Ukraina selama ini lebih cenderung pada kebudayaan Eropa. Maka mereka akan sulit menerima kebudayaan yang datang dari Rusia. Ketiga, secara politik, Ukraina memilih untuk menjadi bagian dari Eropa. Sebagai negara merdeka Ukraina memiliki kebebasan untuk menentukan sekutunya. Keempat, rakyat Ukraina memiliki pandangan negatif terhadap Putin. Mereka mengatakan pemimpin Rusia itu manipulatif, otoriter dan penuh agresi.

Kelima, dalam konflik Rusia vs Ukraina, Rusia telah menyadari bahwa biaya untuk melakukan ekspansi terlalu mahal sedangkan keuntungan yang didapat tidak berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan. Sehingga pada akhirnya Rusia memilih untuk meninggalkan Ukraina sebagaimana Amerika meninggalkan Afganistan.

Sejarah telah melaju begitu cepat. Penaklukan suatu negara atas negara lain telah berubah. Kita mengetahui bahwa ekspansi yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer adalah strategi jadul dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Rusia memahami hal itu.

Di era Revolusi Industri 4.0 cara yang paling efektif untuk menaklukan sebuah negara adalah melalui literasi budaya ekonomi-politik dan mencitrakan seorang pemimpin yang dicintai. Dengan demikian, Perang Dunia III yang disebut-sebutkan oleh banyak analis, tidak akan benar-benar terjadi dalam waktu dekat.