Malam Sastra Mempererat Silaturahmi Lintas Generasi

Masih dalam rangka menjalankan visi Hanief untuk membawa ilmu dari mercusuar kampus dan menara pesantren menuju ruang-ruang publik. Maka sebagai pegiat Hanif yang sudah tidak lagi menjadi mahasiswa, saya membangun tradisi intelektual Islam di luar kampus, tepatnya di desa tempat saya tinggal.

Saya mulai melalui teman-teman remaja usia SLTP dan SLTA, manusia-manusia unyu yang hidup di dunia abu-abu, mulai menyukai lawan jenis dan sering berkhayal tentang misteri kehidupan masa depan.

Remaja sini sudah sangat bersahabat karib dengan gawai, maka untuk pertemuan kali ini teman-teman dipersilakan untuk membawa sahabat karibnya, gawai. Tujuannya tiada lain untuk meminimalisir biaya fotocopy. Esai yang akan di bahas pada malam nanti tinggal di japri. Tanpa perlu di fotocopy.

Seperti biasa, pada sore hari, saya share esai yang akan dibahas nanti. Barulah selepas Isa, teman-teman mulai berdatangan memenuhi ruangan tengah rumah saya. Tanpa basa basi, kita langsung buka pertemuan ini dengan Bismillah dan sedikit ritual.

Kali ini esai yang akan dielaborasi bertajuk Etalase Peradaban Topeng. Esai ini menceritakan layarisasi yang dialami oleh hampir seluruh aspek kehidupan.

Teknisnya setiap orang membaca esai secara bergantian. Masing-masing cukup 2 paragraf. Kemudian esai dibaca kembali secara utuh sebelum nantinya dielaborasi.

Pola seperti ini saya adopsi dari Marlam (Majelis Sore dan Malam) besutan Kang Toni Lesmana, kang Ridwan Hasyimi, Teh Wida, Deni Wj dkk. Setahun penuh pada 2016 saya ikuti kegiatan Marlam setiap 2 minggu sekali untuk menganalisis sebuah Cerpen. Terimakasih semuanya.

Silaturahmi Bentuk Lain dari Kaderisasi

Pertemuan bersama remaja Simpur sangatlah penting untuk mengikat persaudaraan sekaligus kaderisasi lintas generasi. Agar tidak hanya makan minum, pertemuan dikemas dengan menganalisis cerpen atau esai. Kami sebut pertemuan itu, dengan malam sastra.

Bulan-bulan lalu, sebenarnya malam sastra biasa dilaksanakan pada malam minggu. Namun, karena pada malam itu seluruh warga Simpur tumpah ruah melakukan ritual Rotibul Hadad, para remaja pun ikut berbaur. Sehingga malam sastra untuk beberapa kali tidak di gelar. Alhamdulillah sekarang bisa berjalan lagi.

Saya berharap melalui malam sastra ini, remaja Simpur memiliki kecintaan terhadap ilmu dan terbiasa dengan tradisi keilmuan. Hal ini sangat penting bagi remaja. Selain mendampingi para remaja agar memanfaatkan waktu luang, malam sastra bisa dijadikan sarana untuk memantik daya kritis para remaja dalam membaca berbagai persoalan.