Manusia ‘Closingan’ di Bulan Ramadhan

https://i.pinimg.com/originals
https://i.pinimg.com/originals

Ramadhan selalu membawa kisah menarik dan paling ditunggu, khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Memang Ramadhan selalu menawarkan suasana yang baru dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Akhir-akhir ini istilah ‘closingan‘ ramai diperbincangkan di media sosial. Tepatnya akhir bulan sya’ban atau menjelang bulan ramadhan.

Closingan diartikan oleh khalayak di Indonesia sebagai penutupan. Closingan atau penutupan terjadi di bulan Sya’ban. Berarti closingan adalah segala sesuatu yang tidak bisa dilakukan di bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang ramai-ramai melakukan closingan di bulan Sya’ban dengan cara berbagai hal.

Sebetulnya dalam tradisi Sunda istilah closingan sudah terkenal sejak lama, yakni dengan istilah munggahan. Adalah saat umat Islam suku Sunda menyambut bulan suci Ramadhan.

Umumnya, munggahan dalam tradisi Sunda biasa dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga dan teman. Aktivitas yang dilakukanpun beragam, dimulai dari makan bersama, do’a bersama sampai bermaaf-maafan.

Pada tulisan ini saya tidak akan terfokus membahas lebih dalam bahwa puasa di bulan Ramadhan bukan sekedar jasmani ataupun rohani saja.

Ragam Closingan sebelum Ramadhan

Ramadhan selalu membawa kisah menarik dan paling ditunggu, khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Memang Ramadhan selalu menawarkan suasana yang baru dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Bukan hanya berkumpul dengan keluarga, di Indonesia ada juga orang yang menghabiskan waktu closingan untuk kencan bersama ayang.

Di indonesia, ada yang hanya jalan-jalan ke luar kota untuk makan-makan di pantai ataupun di tempat yang memiliki pemandangan indah untuk berswafoto.

Di indonesia, ada yang menghabiskan jatah open “BO” sebelum ramadhan. Ada yang mabuk-mabukan sebelum ramadhan. Ada yang menghabiskan uangnya untuk berjudi sebelum ramadhan. Ada juga yang berbelanja yang tak terkendali untuk persiapan bulan Ramdhan.

Hal di atas seolah menunjukan bahwa bulan Ramadhan adalah belenggu ataupun penjara. Dimana ada hal yang dibatasi dalam setiap kelakuan manusia.

Seingat saya dalam H.R Bukhori dan Muslim, bahwa yang dipenjara di bulan Ramadhan itu hanyalah syaitan bukan manusia.

Manusia di Bulan Ramadhan Pasca-closingan

Sederhananya, orang bisa melakukan apapun lagi setelah terpenjara di bulan Ramadhan, karena di tahun selanjutnya bakal ada closingan lagi.

Bukan hanya sekedar tradisi menahan makan dari terbit fajar sampai terbenam matahari saja yang dirindukan. Pun juga dengan tradisi seperti “ngabuburit”, main “lodong”, berbondong-bondong shalat tarawih sampai belanja berbagai hal.

Toko-toko, pasar, bazar makanan dan minuman selalu diserbu oleh pembeli meskipum melebihi batas kebutuhannya. Tak lupa, satpol PP dan ormas Islam sibuk juga untuk menggelar razia Ramadhan. Banyak razia yang dilakukan polisi dimana-mana, dan tilang ditempat adalah pilihan utama.

Apalagi menjelang hari lebaran, makanan, minuman, fashion, digital, perhiasan dan make up selalu disesaki orang yang mengantri.

Belum lagi saat toko memperpanjang jam kerjanya sampai tengah malam dan ketika banyak mengeluarkan iming-iming diskon, membuat cikal bakal daya konsumtif masyarakat meningkat.

Semua itu dilakukan oleh orang yang berpuasa. Kemudian hal itu dilakukan seperti untuk melepaskan beban yang sudah dialami atau bahkan dalam istilah lain bisa disebut balas dendam.

Baca Juga: Mengambil Jarak saat Berpuasa

Seluruh kalangan masyarakat secara kompak menyerukan semangat berpuasa karena hanya 1 kali dalam satu tahun. Bahkan yang batal puasa di siang bolong pun, tetap menyerukan semangat berpuasa. Entah itu semangat untuk jaga perut, hati, mata, telingan, pikiran dan lain sebagainya.

Hal di atas terlepas dari apakah daya konsumtif di bulan sya’ban-ramadhan telah mengantarkan terhadap kenaikan harga atau tidak. Apakah pemerintah sudah memprediksi akan adanya lonjakan besar-besaran ketika bulan ramadhan, sehingga urgen jika adanya kenaikan harga?

Memang hal tersebut wajar terjadi, pasalnya hukum ekonomi telah membahasnya dalam teori penawaran dan permintaan.

Jika adanya closingan dan anggapan setelah ramadhan tidak ada Rencana Tindak Lanjut (RTL), maka akan ada hal urgen yang ditinggalkan para pengumbar hasrat.

Suci dan tidaknya bulan yang ada dalam kalender salah satunya tergantung dengan orang yang melakoninya juga. Pun termasuk dengan bulan suci ramadhan.