Mengambil Jarak Saat Berpuasa

Rinaldi

Setelah sekian lama tanpa kabar. Di hari ke empat ramadhan tahun ini Rinaldi muncul dengan tingkah laku yang tak biasa, kata-kata yang keluar dari mulutnya jadi ngawur, jalan pikirannya sulit ditebak. Kini Rinaldi seperti bukan Rinaldi, asing 180 derajat.

Teman-teman sepermainan merasa kasihan kepada Rinaldi, karena apabila diperhatikan dari ciri-cirinya, ia seperti sedang mengalami stres tingkat tinggi, bahkan mendekati gejala sakit jiwa. Sebagian besar dari teman-teman, malahan sampai ada yang menghindar dari Rinaldi dan memilih untuk tidak dulu berinteraksi dengannya. Mereka seperti itu karena berusaha menjaga keselamatan diri mereka sendiri, agar tidak terkontaminasi oleh Rinaldi. Kini, Rinaldi layaknya seperti virus, yang harus segera dijauhi agar orang-orang tidak terinveksi.

Kemarin Rinaldi hilang karena ngumpet, menghindar dari kejaran para rentenir, katanya. Ada juga yang mengisukan bahwa ia sedang mempelajari ilmu hitam. Bahkan sampai ada yang menggosipkan, bahwa Rinaldi telah ditolak oleh seorang perempuan, sebelum sempat mengutarakan cinta.

Gosip-gosip lain mengatakan, sejak kecil Rinaldi memang sering menghilang. Terkadang ia ditemukan di pinggiran sungai Cimuntur, setelah berhari-hari dicari. Pada kesempatan lain, ia pernah ditemukan di pedalaman Gunung Syawal. Tidak heran kalau orang-orang sekampung mengatakan bahwa Rinaldi sedang mempelajari ilmu hitam, ditolak cinta atau dikejar-kejar rentenir.

Seisi kampung ramai oleh desas-desus tentang Rinaldi. Di pos kamling, bapak-bapak tidak lagi bermain kartu, karena sibuk membicarakan Rinaldi. Saat berkumpul di teras rumah, ibu-ibu tidak lagi saling membantu untuk memberantas kutu yang bersarang di kepalanya, mereka malah menggosipkan berbagai hal mengenai Rinaldi. Anak-anak mogok sekolah, karena Rinaldi. Sampai pengajian sekalipun tidak luput mengkhutbahkan topik mengenai halal-haramnya Rinaldi. Memang, Rinaldi kini sudah setara dengan artis ibu kota yang sebentar lagi akan menjadi bahan obrolan Veni Rose.

Di tengah kesibukan orang-orang saling berspekulasi mengenai Rinaldi. Saya diam-diam ikut terbawa suasana. Saya mencurigai, jangan-jangan ini hanyalah akal-akalan Rinaldi saja untuk Panjat Sosial. Rinaldi sedang melakukan hal-hal kontroversi seperti yang dilakukan para artis untuk menaikan rating dan mendulang ribuan followers.

Tetapi tidak menutup kemungkinan, bisa saja ini beneran. Mungkin saja Rinaldi sedang mengalami kesulitan dan sangat membutuhkan uluran tangan. Kemungkinan lain adalah, masyarakat telah membuat hoax atas berbagai berita tentang Rinaldi.

Sebenarnya, apa yang sedang dialami oleh Rinadi? Kenapa kemarin-kemarin ia menghilang? Kemana dirinya pergi? Apa yang ia lakukan? apa yang membuat Rinaldi dianggap aneh, berkata ngawur dan berpikiran di luar kebiasaan kebanyakan orang? Saya harus segera memata-matai Rinaldi agar duduk permasalahan yang sebenarnya bisa segera terungkap. Jangan sampai saya terjebak oleh kabar yang kurang jelas, yang kini sudah menjadi pandangan umum masyarakat Lebak Simpur.

Jauh sebelum Rinaldi hilang, kemudian datang kembali membawa sikap yang dianggap aneh, kami hidup dengan tenang di Lebak Simpur. Sebuah kampung di pojokan Kabupaten Ciamis, masih bagian dari teritorial kedaulatan NKRI.

Menurut sesepuh terdahulu, konon katanya di kampung kami terdapat pohon simpur yang amat besar. Oleh karena itu, kampung kami dinamai Lebak Simpur. Saat Sultan Hassanal Bolkiah berkunjung ke Indonesia, Ia membawa bibit pohon itu dari kampung kami untuk diabadikan menjadi salah satu icon di negaranya.

Lebak Simpur memang kharismatik, karena berbagai tokoh masyarakat yang saat ini bertengger di seantero negeri berasal dari sini. Para kyai yang saat ini memimpin pondok pesantren di berbagai daerah, pernah ngaji ke sini. Tak heran apabila nama Lebak Simpur membuat setiap orang rengkuh.

Di sini sangat sulit mendapatkan sinyal. Membuat masyarakatnya belum terlalu tersentuh oleh modernisasi. Kehidupan warga di sini masih berjalan dengan teknologi tradisional, di tengah daerah lain sedang tunggang langgang membangun peradaban digital.

Remaja seusia kami biasa mengisi hari-hari dengan membantu orang tua berjualan, bercocok tanam dan memproduksi Kue Kijing dan Saroja.

Menjelang tiba shalat dzuhur, dari setiap pengeras suara yang diikat di ataspohon pete, terdengar lantunan shalawat yang saling bersahutan, yang dikumandangkan peserta diklat ramadhan. Selepas ashar, kami bersiap untuk bertanding volly, Sedangkan anak-anak biasanya asyik bermain Babancakan, Loncat Tinggi dan Jujungkungan.

Selepas itu, kami harus bergegas pulang, bersiap melaksanakan ibadah shalat magrib dan berbuka puasa. Kegiatan ini terus berjalan sejak kake buyut kami, hingga akhirnya datanglah wifi.