Menyongsong Pribadi Baru

Selepas melaksanakan berjamaah shalat Ashar, Ali bin Abi Thalib berjalan menuju rumahnya dengan wajah murung. Sesampainya di rumah, Fathimah Az-Zahra merasa khawatir akan hal itu, kemudian bertanya,

“Mengapa engkau terlihat sangat pucat, wahai suamiku,”

“di akhir Ramadhan ini, tak ada sedikitpun tanda-tanda keceriaan di wajahmu. Padahal esok kita akan merayakan hari kemenangan?,” lanjutnya.

“Sebulan penuh Ramadhan mendidik bahwa lapar dan haus amatlah pedih. Segala puji milik Allah, yang senantiasa menganugrahkan kita perut yang terisi,” jawab Ali.

Syekh Mahmud al-Misri mengabadikan kisah tersebut, dalam kitab Sirah Ashhabu an-Nabi, untuk menggambarkan keteladanan para as-Sabiqun al-Awwalun.

Melalui kisah tersebut, Mahmud al-Misri menyadarkan kita, bahwa gambaran pribadi para sahabat dan pribadi kita laksana langit dan bumi. Bukannya bersedih, di akhir Ramadhan kita justru bersuka ria karena akan meninggalkan bulan Ramadhan.

Di akhir Ramadhan para sahabat khawatir tidak bisa ketemu lagi Ramadhan. Kita justru mati-matian berdoa sejak 1 Ramadhan agar bulan itu segera pergi.

Mengapa kita memiliki kepribadian yang jauh berbeda dengan para sahabat?. Para sahabat merasa sedih saat akan berpisah dengan Ramadhan, kita malah ingin cepat-cepat berpisah dengan Ramadhan. Mungkinkah hal ini karena kualitas keimanan kita jauh di bawah para sahabat?. Lantas bagaimana agar kita mampu memiliki kualitas keimanan seperti itu?

Landasan Keimanan Para Sahabat

“Andai saja umatku mengetahui mengenai kebaikan di bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan.” (H.R. Ibnu Abbas).

Melalui hadits tersebut kita mendapat jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan sebelumnya, mengapa para sahabat merasa sedih saat akan berpisah dengan Ramadhan, tetapi kita malah tak tahan dengan keberadaan bulan Ramadhan?.

Letak perbedaan tersebut adalah kwalitas pengetahuan para sahabat dengan pengetahuan kita. “Andai saja umatku mengetahui mengenai kebaikan di bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan” seperti itulah nabi bersabda.

Ramadhan membukakan kedua mata kita agar mampu melihat dunia dengan objektif. Kita di sadarkan bahwa makanan bukanlah satu-satunya kebutuhan manusia. Ada kebutuhan-kebutuhan lain yang dibutuhkan manusia seperti pengetahuan, spritualitas, kasih sayang dan keterampilan.

Melalui tadarus kita mendapatkan pemahaman bahwa al-Qur’an adalah sumber segala pengetahuan. Shalat Tarawih meningkatkan spritualitas. Zakat dan Shadaqoh menumbuhkan kasih sayang dan berbagai tradisi masyarakat pada bulan ramadhan melatih keterampilan.

Selama ini kita melihat dunia dengan sebelah mata. Tidak heran apabila kita melihat dunia sebatas fisik, hubungan antar manusia diartikan sebagai transaksi dan kekayaan adalah segalanya. Buahnya adalah berlomba-lomba untuk menjadi paling kaya dan orang lain hanyalah sapi perah. Tak heran apabila penjajahan di atas dunia sulit dihapuskan.

Di luar Ramadhan kita biasa hidup seenaknya, tidak disiplin dan mengabaikan keselamatan diri dan orang lain. Di dalam Ramadhan kita belajar untuk menahan diri, hidup teratur dan menjaga asupan makanan dan pola hidup. Hal ini karena kedua mata kita dibukakan oleh Ramadhan.

Saat kita tergoda untuk melakukan berbagai hal yang merugikan. Dengan cepat kita menjauhi perbuatan tersebut karena khawatir kwalitas puasa kita akan rusak. Betapa Ramadhan mengajarkan kita menjadi manusia beradab.

Menyongsong Pribadi Baru

Di akhir Ramadhan ini kita perlu bertanya pada diri kita sendiri. Apakah di bulan suci tahun ini kita telah berlapang dada untuk menerima segala pendidikan dari Ramadhan? Apakah kita telah rendah hati saat Ramadhan membukakan kedua mata kita?. Sehingga tahun ini kita jalani dengan pribadi yang baru.

Ataukah kita secara terang-terangan menolak segala pendidikan yang diberikan Ramadhan dan bersikeras menolak saat Ramadhan hendak membukakan kedua mata kita. Hal ini yang akan membuat kita menjadi pribadi penjajah sepanjang tahun ini.

Kejahatan paling besar di dunia ini adalah kedzaliman. Sedangkan kedzaliman paling nyata adalah penjajahan.

Penjajahan tidak hanya seperti perilaku yang ditunjukan oleh Israel terhadap masyarakat Palestina atau seperti yang ditunjukan oleh AS terhadap negara-negara berkembang.

Saat kita mengabaikan amanah dari orang tua untuk menyelesaikan skripsi di tahun ini, itupun merupakan salah satu sifat penjajah. Bentuk lain dari karakteristik penjajah adalah seorang pelajar yang malas belajar, seorang pekerja yang malas bekerja, seorang pemerintah yang malas mengurusi kepentingan masyarakat dan seorang yang menghabiskan hari-harinya dengan menonton Tiktok.

Guru ngaji melakukan santrinya dengan sewenang-wenang, dosen yang tidak memperdulikan mahasiswanya, suami yang membuat istrinya marah-marah dan orang tua yang tidak memperhatikan anaknya adalah contoh lain perilaku penjajah.

Penjajahan terjadi di sekitar kita dan kita secara suka rela menjadi penjajah. Padahal penjajahan adalah bentuk nyata dari kedzaliman.

Allah Swt mengancam perilaku dzalim dalam Q.S. Asy-syura ayat 42,

“Sesungguhnya kesalahan terletak pada orang-orang yang dzalim terhadap manusia dan yang melampaui batas di muka bumi tanpa mengindahkan kebenaran. Mereka itu akan merasakan azab yang sangat pedih”

Semoga setelah mendapat pendidikan dari Ramadhan dan secara perlahan melihat dunia dengan kedua mata, kita menjadi pribadi yang baru.