Omelan Rakyat Kecil

micecartoon.co.id

Selepas Taraweh, Jama’ah mesjid Al-Ikhlash tidak seluruhnya bubar. Ada beberapa di antara mereka yang leleson dulu di Bale Malang. Orang tua menikmati tembakau sambil mempersiapkan kuda-kuda untuk melanjutkan omelan rakyat kecil malam kemarin. Sedangkan anak-anak terbagi ke dalam beberapa kegiatan alamiah, seperti sasarungan, ucing-ucingan dan ngadulag. Ada juga yang main petasan.

Bangunan mesjid sengaja didesain menjadi tiga ruang. Pertama, Paimbaran, yaitu ruang Mahdoh yang haram diisi kegiatan lain selain ibadah. Kedua, Bale Malang, yaitu ruangan yang bisa dipakai Tadris, bermusyawarah dan leleson. Ketiga, halaman masjid, yaitu ruang untuk melaksanakan berbagai aktivitas kebudayaan, seperti PeHaBeEn, PeHaBeI, bermain, bahkan dangdutan pun beberapa kali di gelar.

Hal ini adalah strategi dari pemuka agama dipalemburan agar aktivitas masyarakat selalu berdekatan mesjid. Mesjid selalu menjadi saksi atas setiap aktivitas yang di gelar masyarakat. Setidaknya, aktivitas masyarakat yang berdampingan dengan masjid tidak akan membahayakan dan urakan.

Beberapa orang tua terlibat dalam obrolan santai. Mereka bercerita mengenai iklim yang tak menentu. Obrolan-obrolan itu mengalir sampai pada dampak iklim pada aktivitas pekerjaan mereka. Ada juga yang mengeluhkan omelan istri mereka karena harga bahan pokok yang nerekel naik.

Omelan rakyat kecil mulai serius saat salah satu orang tua membicarakan kekhawatiran mereka terhadap masa depan anak-anaknya. Menjelang masuk SMP anak-anak sudah enggan untuk shalat Tarawih. Saat dibangunkan untuk sahur, anak-anak mereka malah marah-marah dengan alasan ngantuk. Bagaimana tidak, setiap malam mereka bergadang, asyik dengan gadgetnya. Belum lagi uang jajan yang membengkak karena nambah untuk jajan kuota dan Top Up, di tengah naiknya pajak 11 %.

Mang Taryadi kebelet sejak tadi ingin mengeluarkan unek-uneknya “Ah, Segala naik. Tapi gajih tukang las siga aing tidak pernah naik. PNS mah enak, gajih 13 cair, THR cair, Tukin cair”

“Membunuh rakyat secara perlahan tidak harus di racun. Buat sajah harga bahan pokok naik, bbm naik, listrik naik, pajak naik. Segala naik” Wa Jupri serasa di beri jalan.

Omelan rakyat kecil seperti mang Taryadi malah memancing beberapa tema untuk diomelkan oleh bapak-bapak yang lain, seperti “BPNT cara pemerintah membungkam rakyat, Rencana demo 21 April 2022, Gagal lebaran gara-gara segala naik, Dewan Perwakilan Oligarki dan Gagalkan G20 di Bali”

Apapun bebas diomelkan oleh siapa saja pada malam ini. Karena, hanya dengan cara itu rakyat meluapkan unek-unek mereka atas keruwetan para pelaku negara. Sementara bapak-bapak lain yang tidak mengerti memilih untuk ngalenyap.

Saya yang sejak tadi mendengarkan luapan hati para orang tua. Memilih untuk menjadi pendengar yang baik. Sambil membayangkan, apabila obrolan seperti ini terjadi di setiap mesjid di seluruh seantero negeri. Bisa-bisa dalam waktu dekat, akan terjadi Gelombang Revolusi. Lalu, pelaku negara ikut ngomel di media dan menuduh mesjid sebagai sarang teroris.