Transformasi Fungsi Kosan

Semasa kuliah, kurang lebih saya pindah-pindah kos sampai 11 kali. Ini tidak termasuk saat aktif di organisasi. Saat jadi pengurus BEM, sempat 2 kali pindah sekretariat. Belum lagi saat menjadi pengurus organisasi Hijau Hitam. Di kepengurusan komisariat saja 4 kali pindah sekretariat. Sedangkan di pengurusan cabang, 2 kali pindah. Jadi selama kuliah saya sudah menempati kurang lebih 20 kos-kosan.

Apakah hal ini dialami juga oleh mahasiswa lain di Ciamis?. Kalau hanya saya yang pernah ngekos di 20 kos-kosan, setidaknya ini adalah rekor yang pernah saya capai selama kuliah yang kurang lebih empat tahun setengah.

Bagi yang pernah hidup di kos-kosan tentu saja tahu bagaimana iklim kehidupan di kosan. Kalau termasuk orang rajin, seseorang akan menyempatkan diri untuk memasak nasi dan lauk pauk. Apabila tidak ada waktu untuk itu, lebih baik membeli di warung nasi terdekat atau makan mie instan saja. Kalau sedang menjadi golongan mahasiswa rajin, nyuci baju sendiri. Kalau sedang malas, ya laundry saja. Selebihnya seharian menghabiskan waktu dengan nongkrong dan mengelus-elus gadget.

Menilik Kondisi Kosan Di Ciamis

Selain menjadi mahasiswa dan aktif di organisasi hijau hitam. Sebenarnya saya sangat dekat dengan organisasi Putih. Hal itu karena teman satu asrama saat mondok, banyak yang masuk organisasi Putih. Saya sering ikut pengajian atau sekedar berdiskusi santai. Sampai saking dekatnya saya pernah diajak merajia kos-kosan.

Waktu itu bulan puasa, setelah briefing di salah satu pesantren di Baregbeg. Kami di bagi menjadi beberapa tim untuk mendatangi beberapa kosan yang dianggap zona merah. Hasilnya sesuai prasangka, di siang bolong terdapat beberapa kosan yang jadi tempat persembunyian bagi para pemuda yang godin. Bahkan yang paling mengejutkan, saat beroprasi menjelang malam, beberapa botol miras ditemukan dan beberapa pasangan yang rata-rata anak muda itu sedang asyik berduaan. Tentu kedatangan kami sangat mengejutkan mereka.

Saya kira, Ciamis membaik beberapa tahun terakhir ini. Tetapi prasangka saya ternyata salah. Karena, pada bulan April 2021 Satpol PP melaporkan hasil rajia yang mereka lakukan. Mereka telah mengamankan 12 pasangan, menemukan 31 botol miras isi dan 68 botol miras kosong di kos-kosan.

Sayang sekali, setelah organisasi Putih dibubarkan oleh pemerintah dan pergerakan X anggotanya dicurigai pihak keamanan, sehingga di tahun 2022 tidak terdengar pergerakan dari organisasi itu untuk turut menjaga kesucian bulan Ramadhan dari perilaku amoral. Satpol PP pun nampaknya loyo untuk melakukan rajia. Bisa juga dengan alasan toleransi sehingga perbuatan itu dibiarkan.

Potensi Besar Mahasiswa dan Kosan

Saya belum tahu pasti berapa jumlah kos-kosan di Ciamis. Dari sekian kosan entah berapa banyak yang dihuni oleh mahasiswa. Tapi melihat jumlah kos-kosan di sekitar kampus Unigal saja jumlahnya sangat banyak. Belum lagi ditambah jumlah kosan di sekitaran kampus-kampus lain. Bukankah ini potensi yang sangat besar?. Mari kita lihat potensi apa yang dimiliki oleh kos-kosan di sekitaran kampus Ciamis.

Selama ini kos-kosan yang dihuni mahasiswa difungsikan untuk tiga hal. Pertama, menjadi mesin uang para pemiliki modal. Bagi orang kaya yang memiliki banyak uang, kos-kosan menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan. Pemilik uang bisa membangun banyak kamar untuk menjadi mesin uang yang bersifat pasif income. Selain itu menjadi sumber rizki bagi warung nasi dan loundry.

Kedua, kos-kosan sangat membantu mahasiswa yang membutuhkan tempat tinggal karena jarak tempuh rumah-kampus yang jauh. Mereka bisa menghemat waktu dan tenaga dari pada harus pulang pergi ke rumah.

Ketiga, fungsi kos-kosan adalah menjauh dari aturan rumah. Mahasiswa dan kebebasan adalah satu paket. Di kosan mahasiswa bisa benar-benar mengekspresikan kebebasan dibanding diam di rumah dengan berbagai aturan orang tua. Ini yang menjadi alasan mengapa Satpol PP dan organisasi Putih sering menemukan penghuni kos yang melakukan kejahatan.

Organisasi Putih dan Satpol PP baru sampai Nahi Mungkar. Mereka dengan gigih mencegah agar kos-kosan bersih dari berbagai kejahatan atau apabila sampai terjadi mereka dengan sigap membersihkannya. Namun, sampai dimana upaya Amar Ma’ruf yang dilakukan agar kos-kosan menjadi tempat bagi mahasiswa dapat memanfaatkan waktu luang di luar kegiatan kampus. Mengingat mahasiswa sangat banyak memiliki waktu luang.

Bagi mahasiswa karyawan, waktu luang digunakan untuk bekerja. Bagi mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi mereka pergi ke sana-sini untuk kegiatan organisasi. Bagaimana dengan mahasiswa yang bukan karyawan dan tidak berorganisasi?.

Kosan sebenarnya bisa menjadi potensi besar untuk menjadi sarana pendidikan kedua bagi mahasiswa setelah kampus. Alangkah indahnya apabila setiap kosan memiliki kekhasannya masing-masing. Misalnya, Kosan Haji Mudin menjadi tempat pengembangan keterampilan Teknik, mengingat banyak mahasiswa Teknik yang kos di sana. Kosan, Ibu Entin menjadi pengembangan Bimbingan Belajar, karena banyak mahasiswa FKIP dan Tarbiyah yang kos di sana.

Kosan juga bisa berfungsi seperti pesantren yang mendalami berbagai keilmuan dari mulai agama sampai ekosospol.

Bagaimana jadinya mahasiswa pascakuliah, apabila mereka menempati model kos-kosan seperti itu. Kosan akan melahirkan cendikia, aktivis sosial, pelaku usaha dan pendidik yang siap berkontribusi ke daerah. Semoga.